Refleksi Dies Natalis HMI: Terimakasih Guruku

Spread the love

Oleh : Safawi al Jawy

Aku bukan dari deretan Birokrat, pejabat eselon. Bukan dari pengusaha yang punya sekian puluh usaha dan investasi dimana-mana. Bukan juga dari kalangan aristokrat. Hanya seorang manusia yang ingin berterimakasih kepada jasa-jasa seorang guru.

Lihat! Ia melakukan apa..?

Aku memang bukan itu semua! namun, berkat guru-guruku, aku melihat dunia ini dalam perspektif yang lain. Aku melihatnya sebagai ladang pengabdian yang tiada henti mengajarkanku  untuk terus memberi nilai dalam setiap aspek kehidupan itu. Nilai yang diukur dalam sebuah ukuran yang absolut, dalam kacamata ilahiyah.

MENAFSIR KEMBALI AMIR HAMZAH; Sastrawan Religiuskah.?

Dalam pencapaiannya, aku menyadari butuh bimbingan-bimbingan Hushuli hingga pengetahuan itu menjadi sebuah pencapaian yang Hudhuri melalui proses-proses yang misterius. proses itu kudapatkan melalui jenjang training yang diajarkan guru-guruku ini.

Jenjang training itu berada dalam sebuah rumah besar yang penuh historis. Rumah yang kerapkali melahirkan orang-orang yang banyak memberi nilai dalam setiap kehidupan di sepanjang peradaban bangsa ini.

Novel biografi Muhammad:  Akhirnya Kau pun lahir Muhammad Sang Bintang!

Tujuh puluh tiga tahun HMI hadir memberi warna peradaban bangsa. Memberi kontribusi yang signifikan bagi sebuah konstruks kehidupan yang beradab dan berkedaulatan. Momentum tujuh puluh tiga ini, kita yang- siapapun di kehidupan ini sedang menziarahi rumah besar tersebut. menolehnya, meninjaunya bermesraan dengan harmonisasi indah dulu, sembari melihat realitas bahwa, rumah itu tengah kehilangan makna, meninggalkan sebuah luka.

Luka peradaban intelektual yang bernash Rasionalistik religius dalam praktek moderasi Islam. Menuju penyakit pragmatisme intelektual dalam bingkai realis, sering menertawakan nilai-nilai idealisme yang kurang laku dalam pasaran politik transaksional. Sungguh memilukan

Wahi Guruku, terimakasih telah mengajarkanku banyak hal tentang kuatnya makna. Pekerjaanmu makin banyak. Musuh hedonis kapitalis berada di depanmu, di dahi saudara-saudara kandung Indonesiamu.

 

SELAMAT MILAD HMI KE 73 TAHUN, BAHAGIA HMI JAYALAH KOHATI

 

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *