Novel biografi Muhammad:  Akhirnya Kau pun lahir Muhammad Sang Bintang!

Spread the love
Review Novel Muhammad

Jumat, tanggal 1 November 2019 di sebuah ruang rawat inap nomor 329, Tuntas sudah mengkhatamkan buku ke empat yang merupakan babak terakhir dari  Tetralogi Muhammad karangan Tasaro GK, bertepatan lahirnya putra kedua tepat pukul 17.30 WIB pada hari Rabu menjelang sore di sebuah ruangan persalinan.

baca juga Memahami Kemanusiaan Rasul

Aku dipanggil oleh suster, berbusana seragam berwarna hijau dengan kombinasi kuning kompak seperti warna bangunan Rumah sakit ini, nampaknya sang pemilik Rumah sakit swasta ini ingin menkombinasi unsur-unsur rumah sakit hingga sandal untuk mengambil air wudhu di Masjidnya saja juga berwarna hijau muda. Menarik!

HMI Koms Fak. Ekonomi Islam laksanakan Pelatihan Kerajinan tangan

Aku diperkenankan untuk mengumandangkan adzan, sebuah tradisi Sunnah Nabi Mulia menyambut kedatangan sang Putra yang dinantikan. Dengan sedu sedan kulantunkan ungkapan penyeru kepada Tuhan dengan penuh Takzim dan khidmat.

Setelah adzan ku kumandangkan, bergetar hatiku dengan mata berembun namun ku berusaha mengontrol emosi kebahagiaan agar tak diketahui oleh para perawat yang sedari tadi memerhatikan. Dengan sedikit bergumam, lalu dengan lirih kulantunkan untaian harap:

Samaituka bima samakallahu bi Muhammad Sang Bintang bin Muhammad Supawi ..Al Fatihah…”

Kelahiran anak kedua ini melengkapi kebahagiaanku sebagai seorang ayah. Putra yang selama ini didambakan bagaikan Bintang menghiasi malam yang turut memberikan arti bahwa malam hari adalah lukisan keindahan yang dilukis dengan tangan yang agung, itu ditandai dengan pendarnya  di malam hari. Begitulah Muhammad kiranya!

Buku ini memang membawa pengaruh besar hidupku. Dalam catatan kehidupanku, sejarah adalah sebuah ilmu yang paling memuakkan. Penuh dengan intrik dan manipulatif menurutku.

Namun ketika ku membuka lembaran demi lembaran novel ini, ada sesuatu yang mengalir dalam diriku, sesuatu yang aku pikir begitu sangat kurindukan. Sesuatu yang aku pikir begitu ingin aku  segera bertemu dengannya. Namun aku tak begitu yakin sejujurnya apakah rindu ini hanya karena aku terbawa suasana dalam cerita novel itu atau ada sesuatu yang telah lama hilang kini perlahan dihadirkan kembali melalui novel ini.

Seperti saat kelahiran putraku ini. Seperti itulah aku rasakan ketika mengkhatamkan novel tersebut. Tak pernah aku membaca buku penuh dengan perasaan seperti saat ini. Mungkin aku terlalu narsis mengungkapkannya terlalu berlebihan, namun membacanya aku menemukan cara lain dalam mencintai Muhammad nabiku.

Sebenarnya buku ini terbit 2010 di setiap edisi mengalami beberapa kali cetakan, lalu kemudian berakhir pada buku ke 4 enam tahun setelah buku pertama diterbitkan yaitu April 2016. Aku baru berhasil mengoleksi lengkap buku tersebut dan tuntas membacanya saat ini. Hingga buku tersebut mampu membuatku berubah dalam melihat fakta sejarah yang kompleks dan penuh romantika.

Enam tahun pengembaraan kata-kata yang melintasi benua dan kota-kota yang mempunyai sejarah besar, TASARO GK sebuah nama  Akronim dari Taufiq Saptoto Rohadi. GK diambil dari daerah asalnya, Gunung Kelud yang keseharian hidupnya dihabiskan hanya untuk menulis.  Ia mampu membangun narasi yang indah dalam setiap penggalan-penggalan cerita dalam novel ini.

Dalam novel ini pembaca dibawa berpetualang bersama sang cendikiawan muda Kashva dalam pencariannya menemukan Nabi yang dijanjikan itu. Melintasi pegunungan Tibet, Biara di Suriah, Istana megah sang Heraklius hingga sampai ke Yastrib, kota tempat lahirnya Nabi yang dijanjikan  itu dalam berbagai kitab yang dipelajarinya. Kasvha adalah seorang pengkaji kitab suci Zardust dalam ajaran Zarasutra, ia berpaling menjadi seorang pelarian dari rezim Khosrow penguasa negeri Persia ketika itu yang telah berpaling dari kemurnian ajaran Zoroaster.

Semuanya menjadi berubah, dahulu ia sebagai seorang pendeta yang diagungkan Kosrou, kini menjadi seorang pelarian yang senantiasa yang bertarung dengan nasib demi pencariannya terhadap sang Nabi tersebut. Hingga kemudian dalam pengembaraannya, ia mendapatkan banyak guncangan spiritual hingga akhirnya ia menemukan apa yang ia cari.

Kelihaian seorang imaginer yang mampu mereduksi imajinasi dalam dinamika historis yang sangat sensitif, sebuah keberanian yang hebat untuk memutuskan menceritakan sebagian fakta sejarah dalam balutan karya sastra berbentuk novel. Novel ini terdiri dari 4 bagian.  novel yang dimulai dengan  menceritakan Sejak pra Islam, ketika sang Nabi dilahirkan sampai kepada ke khalifahan ke empat yaitu Ali bin Abi Thalib. Perjalanan yang demikian panjang tersebut membuat begitu banyak perubahan dalam diri seorang Kashva yang merupakan tokoh utama.

#Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan

Kepergian kashva ke Suriah bukan tanpa alasan. Setelah perdebatannya bersama beberapa pendeta di biara, ia menilai, Umat hari ini telah meninggalkan kemurnian ajaran Zoroaster. Hal itu ditandai dengan penafian mereka terhadap pesan-pesan Nubuwah mengenai nabi yang dijanjikan itu.

Kosrou menilai, Kasvha telah tersesat, dan membahayakan untuk ajaran agamanya juga membahayakan kekuasaannya. ia memerintahkan para tentara untuk menangkapnya. Kasvha memutuskan untuk lari meninggalkan kota sejuta kenangan dalam hidupnya tersebut.

Babak perjalanan Kasvha penuh dengan pertualangan dan penderitaan. Ia terus mencari Nabi yang dijanjikan itu, mempelajari dari berbagai kitab. Ia juga rajin berhubungan melalui surat menyurat melalui sahabat penanya Elyas. Seorang penjaga biara bashra di Suriah.

Bersama Elyas dalam hubungan korespondensi ia membahas tentang Nabi yang dijanjikan itu. Dalam Ajaran  Zarduhst yang murni, pesan kenabian itu terpampang jelas, ia berdiskusi dengan sang Elyas sehingga menimbulkan keinginannya untuk menemui Elyas di kuil itu, sehingga perjalanan panjangpun ia mulai dengan tekad untuk memurnikan ajaran Zarduhst tersebut.

Jauh dari Persia di negeri Yastrib telah lahir Nabi yang dijanjikan itu, sang penulis selalu mengilustrasikannya dengan sangat indah, seperti duhai yang lembut hatinya, duhai yang tepat perhitungannya, seolah-olah penulis begitu sangat berhati-hati dalam menyebutkan nama Muhammad saw.

#Muhammad Para Pengeja Hujan

Setelah perjalanannya yang panjang, ia bertemu dengan orang-orang yang menjadi sahabat-sahabatnya, seperti Jenderal Atusa, seorang Jendral Wanita, yang juga menjadi teman diskusi perihal tentang keyakinannya itu. Astu merupakan Jendral dari tentara Kosrou yang juga memiliki prinsip yang sama bahwa Sang raja telah berpaling dari ajaran Zarduhst yang murni.

Ia memiliki putra yang bernama xerxes yang terpisahkan akibat perperangan yang terjadi terhadap pengejaran ia kasvha. Kashva dan Astu terpisahkan dan ia menitipkan xerxes kepada Kasvha lalu kemudian iapun terpisah dari xerxes karna ia tertangkap ditahan oleh tentara Kosrou. Lalu kemudian ia merasa bersalah dan bayangan penyesalan it uterus menerus dating dari tidurnya.

ISNU dan Warga Nahdiyin, Sebuah Refleksi Menjelang Pelantikan ISNU

Di satu sisi, di seberang sana, jazirah Arab, 8 Juni 632 Masehi tanda-tanda Nabi akan mangkat dengan sangat dramatis penulis ungkapkan, ketika rasul terbaring sakit, mengumpulkan orang-orang yang ia cintai, dengan sangat lembut penulis mengungkapkan

telah berkumpul segala kelelahan pada dirimu ya, Tuanyang pada dirinya berkumpul segala kemuliaan. Kepalamu lunglai di atas pangkuan Aisyah ketika Abdurrahman saudarmu itu hadir di ruanganmu membawa siwak”.

Tersirat sikap kehati-hatian penulis dalam ungkapan itu menyebutkan nabi yang mulia, sehingga warna getaran di setiap kalimat menembus dada melewati logika hingga sampai ke sebuah pemahaman bahwa sungguh mulia dan beruntungnya orang-orang yang pernah bersama di sisinya.

Sementara itu di pegungan Tibet, Vakhshur, sang Bocah remaja yang berhasil membebaskan Kasvha sedang bertikai dengan Kasvha tentang sesuatu yang aneh.  Selama diperjalanan ternyata kasvha mengalami halusinasi, bertemu dengan seorang biksu Tasidelek yang memberinya sebuah kotak  berisi sutra-sutra yang bertulis tentang Budha Maitreya, dan vakhshur mengatakan biksu itu tidak pernah ada, ia hanya berhalusinasi, dan bahkan sosok yang ia cari bernama Elyas itu juga tidak pernah ada. Perjalanan kasvha pada novel kedua ini memang membingungkan, kita dibawa ke dalam alam pikiran yang misterius, semisterius perjalanan Kasvha pada novel kedua ini.

Dua novel malam ini aku pikir cukup untuk mengawali reviewku terhadap perjalanan spiritual yang penuh dengan hikmah ini. Novel ke tiga dan  ke empat mungkin akan kulanjutkan nanti jika Tuhan berkenan mempertemukan kita kembali. Selamat dating Putraku Muhammad Sang Bintang. Mudah-mudahan engkau mampu mencintai Nabimu dengamn cara yang engkau sukai, karena cinta itu tidak memerlukan alasan untuk dipertanyakan mengapa ia hadir, namun cinta dapat menjadi jawaban mengapa kau terus hidup dan bersemangat dalam menjalaninya. Shollu Alan Nabi…

Tinggalkan Balasan