Lihat! Ia melakukan apa..?

Spread the love

Harlah NU dan Sebuah Pengabdian

Oleh:  Muhammad Sang Bintang

Abdul Majid kader ANSOR NU membetulkan Bendera NU pada kegiatan Harlah NU

Beberapa buah bendera NU yang sengaja di pacak di antara dua jalur jalan sepanjang jalan Tengku Amir Hamzah menuju kantor bupati Langkat kelihatan tumbang dan  jatuh . Kemungkinan terbesar bendera tersebut jatuh diterpa angin akibat lalu lalang kendaraan-kendaraan bermotor di sepanjang jalan tersebut.

MENAFSIR KEMBALI AMIR HAMZAH; Sastrawan Religiuskah.?

Tiba-tiba dua orang pemuda yang mengendarai sepeda motor berhenti dan salah satu di antaranya turun di atas boncengan sepeda motor tersebut lalu kemudian terlihat ia menyebrang dan bergegas mengambil bendera yang kelihatan tumbang tersebut kemudian membenarkan posisinya. Ia mengikatkannya kembali di badan sebuah pohon. Pohon yang tumbuh di pembatas dua jalur di sepanjang jalan Amir Hamzah.

Lelaki Penjaga Tanah Keramat itu telah pergi

Namanya Abdul Majid, seorang pemuda yang kini bekerja sebagai Pendamping PKH Dinas Sosial Kabupaten Langkat. Ia juga seorang kader ANSOR NU yang aktif di Pimpinan Anak Cabang Tanjung Pura kabupaten Langkat. Organisasi ANSOR juga merupakan bagian dari warga NU yang menempati posisi Badan Otonom (BANOM) di dalam tubuh NU sebagai pemudanya Nahdhlatul Ulama. Sebagai seorang Warga Nahdiyyin, jiwanya tergerak untuk membenarkan posisi bendera NU yang terjatuh tersebut. Tindakan itu kelihatan kecil, namun sarat nilai filosofis.

Apa yang dapat dipetik dari tindakan tersebut? kita teringat musim Pilpres yang lalu, dimana terjadi berbagai macam tindakan yang menyudutkan NU dan Banom-Banomnya sebagai resistensi dari kedigdayaan NU di tanah Jawa. Orang-orang alergi benci bahkan, di beberapa tragedi persekusi terhadap lembaga besar ini, tak jarang bendera NU dicampakkan, dibuang bahkan dibakar. Tindakan ektrim yang ekspresif tersebut sebagai bukti bahwa betapa bencinya mereka melihat institusi ini.

Novel biografi Muhammad:  Akhirnya Kau pun lahir Muhammad Sang Bintang!

Kebencian itu adalah sunatullah yang telah digariskan harus ada dalam kemanusiaan. Namun, Allah melarang penyebab kebencian kita terhadap sesuatu menjadikan kita tidak adil dalam menilai sesuatu tersebut. (QS Al-Maidah:2):

“”Dan jangan sekali-kali kebencian (kalian) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kalian dari Masjidil Haram, mendorong kalian berbuat aniaya (kepada mereka)”

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/74748/benci-tapi-tetap-berlaku-adil-pesan-langit

ayat tersebut merupakan peringatan bagi kita dalam membenci sesuatu. Membenci dengan mengedepankan raionalitas lebih terhormat dari pada membenci yang membabi buta sehingga terkadang terjebak dalam lingkaran ujaran kebencian yang sekarang marak terjadi umumnya di media sosial. Anda boleh lihat bagaimana tokoh-tokoh Nasional yang terjebak dalam ujrana kebencian terhadap NU berangkat dari rasa kebencian yang menutup nilai-nilai rasionalitas dalam dirinya.

Tindakan Abdul Majid, sebagai bentuk ekpresi kecintaannya terhadap NU. Dengan melakukan hal-hal yang kecil tapi penuh arti. Selamat Harlah NU yang ke 94 Tahun, menuju 1 abad NU, mudah-mudahan dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap NU, yang jujur penuh arti. Amin

 

 

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *